VOA.net_Pengelolaan sampah antara wilayah perkotaan dan pinggiran kota di Aceh dinilai masih mengalami kesenjangan. Kondisi tersebut terlihat dari perbedaan fasilitas pembuangan sampah serta akses layanan kebersihan yang belum merata hingga ke wilayah desa dan pinggiran kota.
Kepala Biro Organisasi Yayasan Aceh Green Conservation (AGC), Nurulyana Daba, S.Pd, mengatakan persoalan itu masih ditemukan di sejumlah kabupaten dan kota di Aceh. Menurutnya, kawasan perkotaan umumnya telah memiliki fasilitas tempat sampah dan titik pembuangan yang memadai, sementara di wilayah desa fasilitas tersebut masih sangat terbatas.
“Kalau kita lihat sampah perkotaan pasti sudah banyak tempat-tempat sampah yang memang orang-orang bisa membuang sampah. Tapi ketika kita lihat di desa bahkan mungkin tong sampahnya sudah tidak ada. Jadi masyarakat desa malah buang sampahnya masih lempar ke irigasi, lempar ke alur-alur sungai,” ungkap Nurulyana Banda Aceh.
Ia menjelaskan, AGC sebelumnya telah mendorong kebijakan pengelolaan sampah terintegrasi mulai dari tingkat desa hingga kabupaten untuk mengurangi kesenjangan layanan persampahan. Namun, implementasi di lapangan dinilai masih memerlukan perhatian lebih, terutama bagi kawasan pinggiran kota yang belum memiliki fasilitas penampungan sampah memadai.
Nurulyana menambahkan, penyediaan tong sampah maupun bak penampungan di kawasan perbatasan desa perlu menjadi prioritas pemerintah daerah agar masyarakat memiliki akses pembuangan sampah yang jelas dan teratur serta mencegah pencemaran lingkungan.
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar