Banda aceh|VOA net_Pemerintah Kota Banda Aceh mengajak warga berpartisipasi dalam kampanye global Earth Hour 2026 dengan aksi pemadaman listrik selama satu jam, Sabtu, 28 Maret 2026.
Kegiatan ini berlangsung di Balai Kota Banda Aceh mulai pukul 20.50 hingga 22.10 WIB.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menegaskan, dia mendukung penuh gerakan ini sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian lingkungan di tengah tekanan krisis energi dan perubahan iklim.
“Aksi mematikan lampu selama satu jam menjadi pengingat bahwa langkah sederhana dapat memberikan dampak besar dalam menghemat energi sekaligus menjaga lingkungan,” ujar Illiza dalam keterangan tertulis.
Ia mengimbau seluruh warga untuk mematikan lampu dan perangkat elektronik yang tidak digunakan.
Menurut Wali Kota, partisipasi kolektif penting untuk menumbuhkan kesadaran gaya hidup ramah lingkungan.
Earth Hour pertama kali digagas pada 2007 dan kini menjadi gerakan global yang diikuti berbagai negara.
Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati melalui aksi simbolis mematikan lampu selama 60 menit.
Tahun ini, Earth Hour mengusung tema, “Beri Ruang Untuk Bumi”. Ini bukan sekadar slogan, tetapi pengingat bahwa simbol saja tidak cukup.
Dibutuhkan aksi nyata, langkah-langkah kecil dalam kehidupan sehari-hari, untuk memberi bumi ruang bernapas.
Di Banda Aceh, rangkaian kegiatan dimulai dengan street campaign pagi hari yang melintasi titik-titik ikonik kota, seperti Taman Sari, Meuligoe Gubernur Aceh, Tugu Adipura, hingga Masjid Raya Baiturrahman.
Panitia juga mengundang jurnalis untuk meliput dan menyebarluaskan pesan kampanye agar edukasi publik lebih luas.
Beberapa ikon kota dipilih sebagai titik simbolik dalam aksi Earth Hour.
Masjid Raya Baiturrahman, berdiri kokoh sejak masa Sultan Iskandar Muda dan selamat dari tsunami 2004, menjadi simbol ketahanan sekaligus kebersamaan masyarakat Aceh.
Tugu Simpang Lima menjadi representasi pusat aktivitas kota, sementara Museum Tsunami Aceh mengingatkan masyarakat akan dampak bencana dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Kampanye juga menekankan pelestarian habitat gajah Aceh dengan pesan: “Langkah Kecil Hemat Energi untuk Cegah Bencana Demi Kelestarian Habitat Gajah di Aceh.”
Selain ikon fisik, seni budaya turut dihadirkan, termasuk Tari Guel, yang merefleksikan harmoni manusia dengan alam.
Melalui Earth Hour, Pemerintah Kota Banda Aceh berharap aksi sederhana mematikan lampu selama satu jam menjadi momentum refleksi dan mendorong perubahan perilaku masyarakat demi lingkungan yang lebih berkelanjutan.***
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar